Lewati Ke Konten
Caseinn Blog

Ngapain Sih Pake Framework Buat Website Statis?

Bukan soal framework mana yang terbaik. Ini soal: emang perlu?

4 Menit Baca

Jadi gini ceritanya.

Dulu saya pake Next.js buat semua. Blog. Portfolio. Landing page. Pokoknya tiap ada ide website, tangan langsung ngetik npx create-next-app.

Suatu hari saya sadar: ini kayak pengen masak sepiring nasi goreng, tapi yang saya lakukan malah ngebangun dapur dulu. Yang saya butuhkan waktu itu cuma website berisi konten — nasinya. Tapi saya udah sibuk nyiapin routing aplikasi, hydration, rendering strategy, config build — dapurnya. Sebelum satu paragraf pun ditulis.

Tentu dapur ada manfaatnya — efisien, semua alat udah di situ. Tapi buat sepiring nasi goreng doang, apa nggak berlebihan? Semua itu buat halaman yang isinya cuma teks dan gambar.

Di situlah saya berhenti. Dan akhirnya nanya ke diri sendiri: “kalau yang saya butuh cuma nasi, ngapain bangun dapur?”


Jawabannya balik ke prinsip dasar: kirim ke browser cuma apa yang dibutuhkan. Nggak lebih.

Kedengarannya simpel. Tapi lihat framework yang paling sering kita pake — Next.js, Nuxt, SvelteKit — buat bikin blog atau landing page. Framework-framework itu emang hebat. Tapi buat halaman yang isinya cuma teks dan gambar, banyak kemampuan yang mereka tawarkan — routing tingkat aplikasi, berbagai strategi rendering, hydration, sampai pola data fetching yang lebih kompleks — sering kali nggak benar-benar dibutuhkan. Kompleksitasnya bukan datang dari websitenya, tapi dari alat yang saya pilih.

Ada pendekatan yang beda. Konsepnya disebut islands architecture: sebagian besar halaman dibiarin HTML statis. Cuma bagian yang beneran butuh interaksi — kolom komentar, form search — yang dikasih JavaScript. Sisanya? Nggak usah. Jadi browser nggak perlu download JavaScript untuk seluruh halaman, cuma bagian yang memang interaktif.

Saya udah nyoba dan ternyata enak aja — ini bukan sekadar teori. Blog ini pake pendekatan itu. Detailnya saya bahas di post sebelumnya. Hasilnya langsung kerasa: kerumitan teknis hampir nggak ada, fokus saya balik ke nulis. Nggak ada lagi drama config atau dependency berlapis.

Tapi justru dari sini muncul pertanyaan yang lebih menarik: kenapa sih kita selalu loncat ke framework dulu? Padahal prinsipnya sesimpel itu?


Kenapa saya — dan mungkin kamu juga — otomatis ngetik npx create-... begitu dapat ide bikin website?

Ada beberapa alasan. Dan mayoritas bukan alasan teknis.

Tutorial dan bootcamp ngajarin framework dari hari pertama. create-react-app diketik sebelum paham DOM. Component diajarin sebelum ngerti HTML form. Ekosistem edukasi frontend sekarang udah ngejadiin framework sebagai starting point, bukan dipake cuma pas perlu.

FOMO. Ada ketakutan halus: kalau cuma pakai HTML, nanti dinilai “nggak profesional”. Nggak pake framework = ketinggalan jaman. Padahal nggak ada yang ngomong gitu. Itu suara di kepala sendiri.

AI juga begitu. Dalam pengalaman saya, AI juga sering menyarankan framework modern sebagai titik awal. Coba minta AI bikin website — jawaban pertamanya hampir selalu npx create-next-app, npm create vite, atau framework modern lain, bahkan pas kita cuma minta landing page 1 halaman.

Ini bukan salah AI. AI cuma menyarankan solusi yang paling sering muncul di dokumentasi, tutorial, repository open-source, dan contoh proyek yang jadi data latihnya. Ekosistem web sekarang memang didominasi framework — wajar kalau rekomendasinya juga framework-first. Tapi itu bukan berarti selalu solusi terbaik untuk kasus kamu.

Ketiga alasan ini — tutorial, FOMO, dan AI — semuanya valid. Saya juga ngalamin. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanyain: kalau project-nya statis semua, apakah alasan-alasan ini masih cukup?


Saya nggak bakal bilang framework itu buruk. Karena emang nggak.

Dashboard admin penuh chart interaktif? Aplikasi SaaS dengan real-time update? Aplikasi yang perilakunya lebih mirip software daripada dokumen? Di situlah framework menunjukkan kekuatannya. Begitu kebutuhan mulai mengarah ke autentikasi, state yang saling terhubung, atau routing aplikasi yang kompleks — framework jadi keputusan yang masuk akal.

Framework juga ngasih banyak keuntungan: pola arsitektur yang konsisten, ekosistem library yang matang, dan pengalaman developer yang nyaman. Kalau kebutuhan proyek memang mengarah ke sana, pakai framework itu wajar.

Tapi kalau kamu bikin blog pribadi, portfolio, landing page, dokumentasi, company profile… pertanyaannya bukan “framework apa,” tapi “emang perlu?”

Dan kalau jawabannya “nggak”, itu bukan kabar buruk.

Intinya: jangan mulai dari framework. Mulai dari kebutuhan. Baru pilih alatnya.


Begitu kamu berhenti mikirin framework, fokus kamu bergeser. Bukan karena performa atau deploy lebih cepet — meskipun iya.

Selama ini otak kamu sibuk: “Gimana cara implementasi?” “Komponen apa?” “State management pake apa?” Padahal yang mau kamu lakukan cuma satu: nulis konten.

Lepas dari pola pikir itu, pertanyaannya berubah. Bukan lagi “gimana caranya,” tapi “apa yang saya pengen sampaikan?” Itu perbedaan yang besar. Bukan soal teknologi. Soal postur mental.

Caranya? Terserah. Yang penting kamu sadar ada jalan selain npx create-next-app.


Sebelum tangan kamu otomatis ngetik npx create-next-app, berhenti sebentar.

Tanya ke diri sendiri:

“Saya lagi masak nasi… atau bangun dapur?”